Pages
Blog Archive
About Me
- Ahmad Fauzi
- Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
- Bisa dilihat di http://muso9.com/akudw
Berjuang Menegakkan Dien Al-Islam
Jumat, Maret 27, 2009 | Diposting oleh
Ahmad Fauzi |
Edit Entri
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS 5:35). "Sesungguhnya orang-orang mukmin, hanyalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar." (QS 49:15).
Jihad (berjuang) merupakan ujian bagi orang-orang mukmin. Bahwa manusia itu dijadikan Allah bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk berusaha dan berjihad di jalan Allah sampai akhir hayatnya. Dalam usaha dan berjuang di jalan Allah, manusia biasa mendapat halangan dan rintangan. Hanya orang-orang mukminlah yang sanggup mengatasinya, hingga mereka mendapat kemenangan.
"Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS 29:6)
Jihad itu adalah berjuang menegakkan kalimah Allah. Islam adalah agama kedamaian, dan perang bukanlah internalisasi dari sikap Islam yang sebenarnya. Namun perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. Jadi jihad adalah alat yang bisa menghantarkan pada tujuan ibadah, yaitu kebebasan berakidah dan kebebasan diri.
Jihad dalam bidang lain, seperti memberantas kemiskinan, memajukan pendidikan dan menegakkan keadilan, merupakan bentuk aksi dari jihad.
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya ..." (QS 22:78)
Adam Sebagai Kholifah
Rabu, Februari 11, 2009 | Diposting oleh
Ahmad Fauzi |
Edit Entri
Oleh : Abi Rahmanu Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah (QS 2:29), yang artinya: "Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Hal itu merupakan suatu kehendak, ketetapan dan keputusan Allah untuk menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi ini yang memang telah disediakan untuk manusia. Dan Allah memberi kesempatan bagi manusia untuk mengolah bumi ini yang merupakan asset Allah, yang gemah ripah loh jinawi. Sesuai dengan firman Allah QS Al-Baqarah (QS 2:22), yang artinya:
"Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui."
Tentunya menjadi khalifah di bumi ini haruslah bisa mengolah baik itu alam, manusia dan system yang di dalamnya meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan bagi masyarakatnya, menuju negeri yang baik, dan Allah Maha Pengampun. (QS 34:15).
Memahami Dien Al-Islam dalam Kehidupan yang Haq (2)
Sabtu, Januari 31, 2009 | Diposting oleh
Ahmad Fauzi |
Edit Entri
Oleh : Abi Mursalat
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 2:218). "Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan." (QS 3:157)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 2:218). "Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan." (QS 3:157)
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah paling sempurna. Hal itu dijelaskan dan surat Al Mu'minunn (QS 23:12-16), yang artinya:
"Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati tanah (berasal) dari tanah.” (12).
"Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)." (13).
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (14).
"Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)." (13).
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (14).
"Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati." (15). "Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat." (16)
Kajian Surat Al-Jin (2)
Rabu, Januari 21, 2009 | Diposting oleh
Ahmad Fauzi |
Edit Entri
Oleh : Abi Mursalat
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." (QS 15:39-40)
Terjemah Surat Al Jin (QS 72 : 7-17)
7. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka, sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun.
8. Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.
9. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu, untuk mendengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang, barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).
10. Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu), apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
11. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh, dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
12. Dan sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-ka!i tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumii, dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari pada) Nya dengan lari.
13. Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dari kesalahan.
14. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat, dan (ada pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang ta’at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.
15. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka jahannam.
16. Dan bahwasanya, jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yanq banyak).
17. Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barang siaoa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.
Salam Penghormatan
Selasa, Januari 13, 2009 | Diposting oleh
Ahmad Fauzi |
Edit Entri
Oleh : Abi Mursalat Salamun 'alaikum (salam sejahtera) bagi seluruh alam ...
Inilah yang patut disuri tauladani bagi orang-orang yang beriman apabila bertemu kepada hamba-hamba Allah. Ini merupakan suatu ketetapan Allah untuk silaturrohim, yang harus dipelihara sesama manusia, sehingga bisa melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan-Nya.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah, dan dilebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk lain yang telah diciptakan-Nya. QS Al-Israa’ (17:70): "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan yang telah Kami ciptakan.”
Oleh sebab itu Allah memberikan Al-Kitab, Al-Hikmah, As-Sunnah. QS Al-Jumu’ah (62:2): ”Dia-lah yang mengutus kapada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." Sebagai penerangan bagi seluruh manusia, dan pedoman serta petunjuk, pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
Mizaq : Janji dan Ijin Iman
Minggu, Desember 28, 2008 | Diposting oleh
Ahmad Fauzi |
Edit Entri
Benarkah Iman Harus Ijin ?
Oleh : Bambang JS
Sebagai orang muslim, kata “Iman” mungkin tidaklah asing di telinga kita. Iman berarti percaya. Dan konteksnya, kita percaya kepada Allah Tuhan kita, Rosul Allah, dan kepada firman Allah, yaitu Al-Qur’an, dalam arti mengaplikasikan isi Al-Qur’an di dalam kehidupan sehari-hari. Iman kepada firman Allah berarti percaya iman kepada Allah. Iman kepada Allah berarti juga iman kepada Rosul Allah, para malaikat, hari qiamat dan takdir Allah.
Nah sekarang, benarkah kalau kita akan beriman, itu harus minta izin dahulu kepada Allah?
Sebagai gambaran jika kita mau memasuki rumah seseorang untuk bertamu, tentu kita harus ketok pintu, untuk minta izin, dan sang tuan rumah mempersilahkan masuk. Dan jika kita akan meminjam sesuatu kepada orang, terlebih dahulu kita harus minta izin pada yang empunya. Gambaran tersebut sudah jelas, bahwa semuanya kita harus meminta izin kepada yang berhak.
Dan sekarang, apakah iman harus izin dahulu kepada Allah, agar Allah mempersilahkan kita untuk beriman dan Allah berkenan?
Al-Qur’an surat ke 10 (Yunus) ayat 100 (QS 10:100) menjawab: “Dan tidak seorangpun akan beriman, kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.”
Langganan:
Postingan (Atom)


